Chapter 12 - Kekalahan Pertama

 "Serangan Balasan"


Malam yang baru saja berlalu masih terasa dalam tubuh Cyber Team. Meskipun mereka berhasil bertahan dari serangan gabungan Kingpin, Vulture, dan Rhino, kemenangan itu terasa hambar. Mereka telah kehilangan markas sementara mereka, sistem mereka telah dirusak oleh virus berbahaya, dan kini, musuh mereka lebih bersatu dari sebelumnya.

Di dalam laboratorium darurat yang mereka bangun di sebuah lokasi rahasia, Tony menatap layar besar yang menampilkan peta digital kota. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari, pikirannya terus bekerja mencari solusi.

“Kita dalam bahaya,” gumamnya. “Mereka tahu bagaimana cara memukul kita di titik terlemah.”

Parker yang masih mengenakan perban di lengan dan beberapa bagian tubuhnya bersandar di dinding. Meskipun tubuhnya lelah, pikirannya tetap tajam. “Kingpin, Vulture, dan Rhino bekerja sama bukan kebetulan. Ada seseorang yang menyatukan mereka.”

Zack yang duduk di meja sebelahnya mengangguk. “Ya, dan kita harus mencari tahu siapa yang mengendalikan mereka di balik layar.”



Profesor Willie yang selama ini diam akhirnya berbicara. “Satu hal yang pasti, kita harus memperbaiki sistem kita dulu sebelum berpikir menyerang. Dengan virus yang menyerang sistem kita, kita bisa kehilangan akses ke persenjataan dan teknologi pertahanan kita.”

Tony menghela napas dalam-dalam dan memandang Gwen serta Zack. “Bisakah kalian melacak asal virus itu?”

Gwen mengutak-atik sistem di depannya dan menggeleng. “Virus ini dirancang dengan sangat canggih. Sepertinya ada seseorang yang paham betul bagaimana sistem Stark Industries bekerja.”

Parker mengernyit. “Jadi, bisa jadi ini ulah seseorang dari dalam?”

Sebelum ada yang bisa menjawab, alarm berbunyi keras. Echo muncul di layar dengan ekspresi cemas. “Kita punya masalah! Ada gangguan besar di distrik teknologi. Polisi melaporkan adanya pasukan penjarah yang mencuri suku cadang dari pabrik milik Stark Industries!”

Tony langsung berdiri. “Kingpin tidak membuang waktu.”

Parker, meskipun masih dalam kondisi pemulihan, segera berdiri juga. “Kita harus menghentikan mereka.”

Gwen menggeleng. “Kau belum sembuh sepenuhnya, Parker. Kau perlu istirahat.”

Tony menatap Parker dengan serius. “Aku setuju dengan Gwen. Kau masih butuh waktu.”

Namun, Parker tersenyum lemah. “Jika aku istirahat sekarang, siapa yang akan melindungi orang-orang di luar sana?”

Tony menghela napas. “Kau memang keras kepala.”

Saat Cyber Team tiba di distrik teknologi, kekacauan sudah terjadi. Puluhan penjahat bersenjata yang dipimpin oleh anak buah Kingpin merampas teknologi dari gudang Stark Industries. Di atas mereka, Vulture berputar di langit, sesekali menembakkan peluru energi ke arah polisi yang mencoba melawan.

Di sisi lain, Rhino yang kini mengenakan armor baru dengan daya tahan yang lebih tinggi, menghancurkan kendaraan-kendaraan polisi dengan mudah.

Tony segera memanggil armor barunya dan berteriak. “Pisahkan mereka! Aku akan menangani Rhino, Parker hadapi Vulture, dan Gwen serta Zack cari cara untuk menghentikan peretasan mereka.”

Parker mengangguk dan langsung berayun ke langit, menghadang Vulture yang melayang di antara gedung-gedung. “Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi!”

Vulture menyeringai. “Lihat siapa yang datang! Kau terlihat lebih lemah dari sebelumnya.”

Parker menyerang dengan jaring, tetapi Vulture telah meningkatkan sayapnya dengan sensor anti-jaring, membuatnya lebih sulit untuk ditangkap. Ia berputar dan menyerang Parker dengan cakarnya yang bermuatan listrik.

Sementara itu, Tony menghadapi Rhino yang kini lebih kuat dan cepat. Armor barunya mampu menahan pukulan Rhino, tetapi daya hancur musuhnya sangat besar. Setiap kali Tony menghindar, tanah di sekitarnya retak dan kendaraan hancur berantakan.

“Kau pikir bisa mengalahkanku kali ini, Stark?” Rhino menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa, membuat retakan besar di jalan.

Tony tersenyum tipis. “Tidak, aku hanya mengulur waktu.”

Saat Rhino melompat ke arah Tony, jebakan energi aktif, menahan tubuh besar Rhino dalam medan gravitasi tinggi. Rhino menggeram, mencoba melepaskan diri, tetapi energinya terkuras perlahan.

Di tempat lain, Gwen dan Zack berhasil menyusup ke jaringan dan menemukan sumber peretasan. Zack menatap layar dengan kaget. “Astaga… peretasnya bukan orang sembarangan.”

Gwen mengernyit. “Siapa?”

Zack menelan ludah. “Mantan insinyur Stark Industries… namanya Dr. Elias Mortem.”

Gwen terdiam sejenak sebelum berkata, “Kita harus menghentikannya sebelum dia mengambil alih seluruh sistem.”

Parker, yang masih bertarung dengan Vulture, mendengar komunikasi dari Gwen. “Aku butuh sedikit bantuan di sini!”

Tony langsung bergerak cepat. Dengan menggunakan peluncur roket mini dari armornya, ia menembakkan gelombang elektromagnetik ke arah Vulture. Sayap mekaniknya langsung mengalami gangguan, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Parker tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melompat ke arah Vulture, menendangnya ke bawah dengan kekuatan penuh. Vulture jatuh menghantam sebuah kendaraan dan terkapar tak sadarkan diri.

Dengan musuh mereka tumbang, Cyber Team segera kembali ke markas. Mereka tahu ini bukan akhir dari segalanya. Dengan Dr. Elias Mortem di balik layar, serta Kingpin yang masih merencanakan sesuatu yang lebih besar, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

Malam itu, di markas mereka yang baru, Parker tertidur kelelahan di sofa. Tony menatapnya sejenak sebelum mengangkatnya ke dalam kamar dan menyelimutinya.

“Tidurlah, Parker,” gumamnya. “Pertempuran kita masih panjang.”

Di tempat lain, Kingpin berdiri di depan layar hologram yang menampilkan Dr. Elias Mortem. “Kita kehilangan satu pertempuran, tapi perang ini belum selesai.”

Mortem tersenyum dingin. “Kita baru saja memulai.”

Setelah kekalahan telak mereka di tangan Kingpin, Cyber Team tidak punya pilihan selain mundur. Tony menggunakan sumber dayanya untuk mengamankan perjalanan mereka ke sebuah pulau pribadi yang terletak di tengah lautan, jauh dari jangkauan musuh. Pulau ini adalah salah satu aset rahasia milik Stark Industries, lengkap dengan laboratorium, fasilitas pelatihan, serta sistem keamanan mutakhir.

Di dalam jet pribadi yang membawa mereka ke pulau, suasana begitu hening. Semua orang kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Parker, yang tubuhnya masih penuh luka dan memar, bersandar di kursinya dengan mata setengah terpejam. Tony, duduk di sampingnya, mengawasi adiknya dengan penuh perhatian.

"Tidurlah, Parker," ujar Tony lembut. "Kita sudah aman untuk sekarang."

Parker tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja, Tony... Aku hanya perlu sedikit waktu untuk pulih."

Namun, tak lama setelah mereka tiba di pulau, Parker mulai menunjukkan gejala kelelahan yang serius. Demamnya tinggi, tubuhnya lemas, dan ia akhirnya pingsan saat hendak turun dari pesawat.

Tony langsung panik dan menggendong Parker ke fasilitas kesehatan di pulau itu. "Bertahanlah, Parker," bisiknya dengan suara penuh kekhawatiran.

Di dalam ruang medis, Profesor Willie segera memberikan infus untuk Parker dan menstabilkan kondisinya. Tony duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dengan erat, tak ingin beranjak sedikit pun.

"Dia hanya butuh istirahat, Tony," kata Profesor Willie. "Tubuhnya sudah terlalu dipaksa. Dia akan baik-baik saja."

Namun, Tony tetap berjaga di sana sepanjang malam, memastikan Parker mendapatkan perawatan terbaik. Matanya merah karena kurang tidur, dan rasa cemas menggerogoti pikirannya. Sesekali, ia meremas tangannya sendiri, frustrasi karena merasa tak berdaya.

Saat Parker menggigil dalam tidurnya, Tony mengatur selimutnya dengan cermat dan meletakkan kain dingin di dahinya. "Kau harus bertahan, Parker," gumamnya lirih. "Aku tak tahu harus bagaimana tanpamu."

Setiap suara kecil yang Parker buat dalam tidurnya membuat Tony tersentak. Dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu, mencoba mencari cara agar Parker bisa lebih cepat pulih. Pikiran tentang kehilangan adiknya membuatnya sulit bernapas, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Tony merasa takut.

Keesokan paginya, matahari terbit dengan indah di atas lautan yang mengelilingi pulau. Burung camar berterbangan di udara, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma segar dari pepohonan tropis. Cyber Team akhirnya mendapatkan sedikit kedamaian setelah pelarian yang penuh tekanan.

Di samping tim inti, Bibi May dan Lily juga ikut ke pulau pribadi ini. Mereka berusaha membantu sebisa mungkin, terutama dalam merawat Parker. Melihat Tony yang belum beranjak sedikit pun dari sisi Parker, Bibi May merasa khawatir.

"Tony, kau harus makan sesuatu," kata Bibi May dengan lembut sambil membawa sepiring makanan hangat. "Kau tidak bisa menjaga Parker jika kau sendiri tumbang."

Lily, yang berdiri di sampingnya, ikut membujuk. "Aku sudah memasak makanan yang enak. Setidaknya makanlah sedikit pak."

Namun, Tony hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak lapar, Bi. Aku harus tetap di sini. Jika Parker butuh sesuatu, aku harus siap."

Bibi May menatapnya dengan penuh kasih, lalu meletakkan piring di meja kecil di samping tempat tidur Parker. "Aku tahu kau peduli padanya, Tony. Tapi kau juga harus menjaga dirimu sendiri."

Tony tidak menjawab, hanya menatap Parker dengan wajah yang masih penuh kekhawatiran. Bibi May menghela napas dan menepuk bahunya dengan lembut sebelum pergi bersama Lily, membiarkan Tony tetap berjaga.

Sementara itu, Gwen dan Zack kembali ke markas utama di pulau untuk membahas langkah selanjutnya. Mereka tahu Kingpin tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat, musuh akan menemukan mereka lagi.

"Kita harus memanfaatkan waktu ini untuk menyusun strategi baru," kata Zack dengan serius. "Kingpin mungkin berpikir kita sudah kalah, tapi kita masih punya kesempatan untuk bangkit."

Gwen mengangguk. "Aku setuju. Kita perlu memperkuat pertahanan di sini dan mengembangkan rencana yang lebih matang sebelum melakukan serangan balik."

Di laboratorium, Echo bersama Profesor Willie mengembangkan serum pemulihan yang bisa mempercepat penyembuhan Parker. Mereka juga meneliti kemungkinan peningkatan teknologi untuk memperkuat kemampuan Cyber Team.

Hari-hari berikutnya di pulau menjadi waktu pemulihan dan perencanaan. Parker mulai membaik, meskipun masih butuh waktu untuk benar-benar pulih. Tony memastikan adiknya mendapatkan perawatan terbaik, sementara anggota tim lainnya sibuk dengan tugas masing-masing.

Namun, mereka tahu bahwa ini hanyalah ketenangan sebelum badai. Pertempuran melawan Kingpin masih jauh dari selesai.

Komentar