Chapter 11 - Musuh Lama Bertaut Semula
"Amukan Baja di Kota"
Malam kembali menyelimuti New York, tetapi kali ini tidak dengan ketenangan. Jauh di sebuah fasilitas bawah tanah, Adrian Toomes, alias Vulture, berdiri dengan napas terengah-engah. Luka akibat pertarungannya dengan Cyber Team masih terasa, tetapi rasa sakit itu justru membakar dendam dalam hatinya. Ia menatap layar hologram yang menampilkan rekaman pertempuran terakhirnya.
"Aku hampir menang..." gumamnya. "Tapi kali ini, mereka tidak akan seberuntung itu."
Di belakangnya, seseorang dengan tubuh besar dan penuh bekas luka berjalan mendekat. Aleksei Sytsevich, alias Rhino, tersenyum sinis. Namun, kali ini dia bukan sekadar manusia berotot dengan kekuatan brutal. Tubuhnya kini dilapisi exo-suit raksasa, lebih besar dari sebelumnya, dengan desain menyerupai badak baja dengan tanduk berlapis vibranium.
"Aku dengar kau butuh bantuan," kata Rhino dengan suara berat. "Dan aku ingin balas dendam pada si laba-laba cilik itu."
Vulture menyeringai. "Kali ini, kita tidak hanya mengalahkan mereka. Kita akan menghancurkan mereka."
Di Stark Industries, Parker baru saja mulai pulih dari luka dan kelelahan setelah pertarungan melawan Vulture. Tony tetap berada di sisinya, memastikan adiknya itu tidak lagi memaksakan diri. Gwen dan Zack sibuk menganalisis data yang diperoleh dari sistem keamanan, mencoba mencari tahu lebih dalam tentang siapa yang bisa menjadi ancaman berikutnya.
"Kingpin mungkin mundur sementara, tapi dia tidak akan berhenti begitu saja," kata Gwen sambil mengetik cepat di keyboard. "Dia pasti punya rencana cadangan."
Echo muncul di layar dengan wajah serius. "Aku baru saja mendeteksi aktivitas mencurigakan di sebuah laboratorium bawah tanah di luar kota. Sepertinya ada pengembangan teknologi baru yang berhubungan dengan Rhino dan Vulture."
Tony menyipitkan mata. "Jadi mereka belum selesai. Kita harus bertindak sebelum mereka menyerang lebih dulu."
Parker berdiri, meskipun tubuhnya masih terasa berat. "Aku ikut."
Tony menatapnya tajam. "Kau baru saja hampir mati di pertempuran sebelumnya. Aku tidak akan membiarkanmu terjun ke dalam bahaya lagi."
"Tony, ini bukan hanya pertarunganmu," jawab Parker tegas. "Ini juga pertarunganku. Kita tim, bukan?"
Tony menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi kali ini, kita melakukannya bersama-sama."
Sebelum Cyber Team sempat bergerak, ledakan besar mengguncang pusat kota. Alarm darurat berbunyi di seluruh penjuru New York. Ketika mereka tiba di lokasi, mereka melihat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Rhino berdiri di tengah jalan utama, menghancurkan kendaraan dan bangunan dengan satu ayunan besar. Mecha suit-nya kini lebih canggih, dilengkapi dengan persenjataan berat dan pelindung tak tertembus. Vulture terbang di atasnya, mengawasi dari udara sambil menembakkan ledakan plasma ke berbagai arah.
"Hadirin sekalian!" seru Vulture dengan suara yang menggema di seluruh kota. "Kami datang untuk mengambil apa yang menjadi milik kami!"
Cyber Team segera bergerak. Tony melesat dengan armor Iron Man-nya, langsung menghadang Rhino dengan repulsor blast. Parker berayun di udara, menargetkan Vulture, sementara Gwen dan Zack berusaha meretas sistem pertahanan mecha Rhino untuk menemukan titik lemahnya.
Rhino meraung dan melompat ke arah Tony, menghantamnya dengan kekuatan luar biasa hingga menghancurkan jalanan di bawahnya. Tony berhasil menangkis sebagian serangan dengan tameng energinya, tetapi daya hantam Rhino jauh lebih besar dari yang ia perkirakan.
"Sial, dia lebih kuat dari sebelumnya!" seru Tony sambil mencoba menstabilkan armornya.
Sementara itu, Parker bertarung sengit dengan Vulture di udara. Vulture kali ini lebih cepat, dengan sayap yang telah diperkuat menggunakan teknologi Stark yang ia curi sebelumnya. Mereka bertukar serangan, Parker mengandalkan kelincahannya untuk menghindari serangan plasma Vulture, sementara ia berusaha mencari celah untuk menjatuhkan lawannya.
Di bawah, Zack akhirnya menemukan sesuatu. "Armor Rhino memiliki sistem pendingin bertekanan tinggi. Jika kita bisa membekukannya dengan cepat, kita bisa menghentikannya!"
Gwen segera mengakses satelit cuaca milik Stark Industries dan mengarahkan gelombang suhu rendah ke lokasi pertempuran. Saat sinyalnya aktif, armor Rhino mulai membeku perlahan.
Rhino menggeram, mencoba bergerak, tetapi tubuhnya semakin kaku. Tony memanfaatkan kesempatan itu, menargetkan titik lemah di persendiannya dan melepaskan tembakan energi penuh daya.
"Boom!" Armor Rhino meledak sebagian, membuatnya roboh ke tanah dengan suara dentuman keras.
Di atas, Parker akhirnya berhasil mengenai Vulture dengan jaring listrik, membuat musuhnya kehilangan kendali dan jatuh menabrak sebuah gedung.
Cyber Team segera mengelilingi kedua musuh mereka yang kini tak berdaya.
"Kalian sudah kalah," kata Parker dengan napas terengah-engah.
Namun, sebelum mereka bisa menangkap Vulture dan Rhino, sebuah ledakan besar terjadi! Asap tebal menyelimuti area itu, dan saat asap menghilang, kedua musuh mereka sudah lenyap.
Tony mengumpat. "Mereka lolos lagi!"
Gwen menatap layar komputernya. "Mereka punya bantuan... Ada seseorang di belakang semua ini."
Parker mengepalkan tangan. "Kingpin?"
Echo mengangguk. "Mungkin lebih dari itu. Ini baru permulaan."
Di kejauhan, dari sebuah markas tersembunyi, Kingpin menatap layar hologram dengan seringai licik. Di sampingnya, siluet seorang ilmuwan misterius muncul.
"Waktunya membawa permainan ini ke level berikutnya."
Malam di New York terasa lebih berat dari biasanya. Awan hitam menggantung di langit, seakan menandakan ancaman yang akan segera datang. Cyber Team berkumpul di markas sementara mereka, masih mencoba memahami serangan mendadak dari Vulture dan Rhino yang sebelumnya hampir menghancurkan kota. Namun, apa yang mereka tidak ketahui, adalah bahwa serangan itu hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.
Di sebuah fasilitas rahasia, jauh dari jangkauan publik, tiga sosok berdiri di dalam ruangan yang gelap dengan layar hologram yang menyala terang. Wilson Fisk, alias Kingpin, duduk dengan angkuh di kursinya, tangannya bertaut di depan dada. Adrian Toomes, Vulture, berdiri di sebelahnya dengan ekspresi penuh dendam, sementara Aleksei Sytsevich, Rhino, menghentakkan kakinya dengan tidak sabar.
"Kita hampir mendapatkan mereka, tapi mereka selalu menemukan cara untuk membalikkan keadaan," geram Vulture, suaranya penuh kebencian. "Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan rencanaku lagi."
Kingpin tersenyum tipis. "Kesalahan kalian adalah menyerang tanpa rencana jangka panjang. Jika kita ingin menghancurkan Cyber Team, kita harus memastikan mereka tidak punya tempat untuk lari."
Dari bayangan, seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah hitam melangkah keluar. Ilmuwan misterius yang telah bekerja sama dengan Kingpin, Dr. Elias Mortem, seorang mantan peneliti biomekanik yang dipecat dari Stark Industries karena eksperimen terlarang. Di tangannya terdapat sebuah perangkat kecil dengan layar berkedip-kedip.
"Inilah yang kita butuhkan," kata Mortem. "Dengan teknologi yang kita dapatkan dari Stark Industries, kita bisa menciptakan sesuatu yang tidak hanya menghancurkan mereka secara fisik, tetapi juga merusak sistem pertahanan mereka dari dalam."
Rhino mengerutkan alis. "Maksudmu apa?"
Mortem menyeringai. "Kita akan menyerang mereka dari dua sisi. Satu, kita buat kekacauan besar di kota. Dua, kita menghancurkan sistem internal mereka dengan virus sibernetik. Saat mereka sibuk memadamkan api, kita akan menghancurkan mereka satu per satu."
Kingpin menepuk meja dengan kepuasan. "Lakukan."
Di markas Cyber Team, suasana terasa tegang. Parker, meskipun masih dalam masa pemulihan, tetap bersikeras untuk membantu tim. Tony, yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh perhatian.
"Aku tahu kau ingin bertarung, tapi kau belum sepenuhnya pulih," kata Tony. "Kalau kau memaksakan diri, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari markas."
Parker menatap Tony dengan senyum kecil. "Aku tahu, Kak. Aku hanya ingin memastikan kita siap menghadapi mereka."
Sebelum Tony sempat menjawab, alarm peringatan berbunyi keras. Echo muncul di layar utama dengan ekspresi serius.
"Kita punya masalah besar! Ada dua serangan simultan terjadi di kota. Salah satunya terjadi di distrik keuangan, tempat beberapa server utama Stark Industries berada. Yang kedua... di tengah kota, di mana Vulture dan Rhino mengamuk lagi."
Tony menghela napas panjang. "Mereka memancing kita keluar."
Gwen segera merespons. "Kita harus membagi tim. Aku dan Zack bisa menangani peretasan di distrik keuangan. Parker, kau dan Tony harus menghadapi Vulture dan Rhino sebelum mereka menghancurkan lebih banyak gedung."
Tony menatap Parker, seolah masih ragu untuk membiarkan adiknya turun ke lapangan. Parker menyentuh bahunya dan tersenyum. "Aku akan baik-baik saja, Kak. Kali ini, kita bertarung bersama."
Tony mengangguk, meskipun masih ada rasa khawatir di hatinya.
Saat Parker dan Tony tiba di lokasi, kota sudah berubah menjadi medan perang. Rhino dengan armor mecha-nya menghancurkan jalanan dengan brutal, sementara Vulture melayang di udara, menembakkan peluru plasma ke arah gedung-gedung pencakar langit. Polisi berusaha mengevakuasi warga, tetapi serangan ini jauh di luar kemampuan mereka.
"Baiklah, kita lakukan ini cepat dan bersih," kata Tony sambil menyesuaikan pelindung energinya. "Aku akan mengalihkan Rhino, kau tangani Vulture."
Parker mengangguk dan segera berayun ke atas, menghadang Vulture di langit malam. "Hei, burung tua! Masih belum cukup dikalahkan sebelumnya?"
Vulture mendengus marah. "Aku sudah menunggu kesempatan ini! Kali ini, kau tidak akan lolos!"
Keduanya bertarung sengit di udara, bertukar pukulan dan ledakan. Vulture menggunakan sayap mekaniknya yang telah diperbarui, mampu menembakkan jaring listrik untuk menahan gerakan Parker. Namun, Parker dengan lincah menghindarinya dan membalas dengan jaring lengket yang menutupi sebagian mekanisme sayap Vulture.
Sementara itu, Tony bertarung dengan Rhino di jalanan. Dengan kecepatan dan kecerdikannya, Tony berhasil menghindari serangan membabi buta Rhino, tetapi setiap pukulan yang dilepaskan Rhino menghancurkan aspal dan bangunan di sekitarnya.
"Kau selalu mengandalkan kekuatan tanpa berpikir, Rhino," ejek Tony sambil menembakkan repulsor blast yang mengenai armor lawannya. "Tapi itu juga kelemahan terbesarmu."
Namun, sebelum Tony bisa memberikan serangan akhir, tiba-tiba sistem di armornya mengalami gangguan. Lampu pada HUD-nya berkedip-kedip, dan pergerakannya menjadi lebih lambat.
"Sial! Apa yang terjadi?!"
Di markas Cyber Team, Gwen dan Zack berusaha melawan virus yang tiba-tiba menyusup ke dalam sistem mereka.
"Seseorang telah menyuntikkan virus ke dalam jaringan kita!" seru Gwen panik. "Mereka mencoba mengambil alih sistem Stark Industries dari dalam!"
Echo muncul di layar. "Ini bukan sekadar serangan biasa. Mereka ingin kita lumpuh total!"
Parker melihat Tony yang mulai kehilangan kendali atas armornya. Dengan cepat, ia menendang Vulture ke belakang dan berayun ke bawah, membantu Tony sebelum Rhino sempat memberikan pukulan mematikan.
"Kita harus pergi sekarang!" teriak Parker.
Tony mengatupkan rahangnya, tapi akhirnya mengangguk. "Kita harus menyusun strategi baru. Ini lebih dari sekadar pertarungan biasa."
Dengan berat hati, Cyber Team terpaksa mundur. Malam itu, mereka menyadari bahwa musuh lama mereka telah bersatu dan kini lebih berbahaya dari sebelumnya.
Di fasilitas rahasia, Kingpin tersenyum puas. "Sekarang, kita mulai permainan sesungguhnya."

Komentar
Posting Komentar