Chapter 10 - Sayap Kematian di Langit Malam

"Perasaan Tidak Tenang"


 Ruangan kesehatan di Stark Industries terasa sunyi. Cahaya redup dari lampu di langit-langit memancarkan kesan hangat, namun ketegangan masih terasa di dalamnya. Parker terbaring di ranjang medis, selang infus terhubung ke lengannya. Wajahnya pucat, napasnya masih terdengar berat akibat kelelahan ekstrem yang ia alami setelah pertarungan melawan Kingpin.

Di sampingnya, Tony duduk di kursi, matanya terus mengamati Parker dengan tatapan khawatir. Sudah berjam-jam ia berada di sana, menolak meninggalkan adik angkatnya sendirian. Profesor Willie sempat menawarkannya untuk beristirahat, namun Tony hanya menggeleng. Ia tidak akan pergi ke mana pun sampai Parker benar-benar pulih.

“Aku sudah bilang, jangan terlalu memaksakan diri, Kid,” gumam Tony sambil mengusap wajahnya yang terlihat lelah. “Tapi kau keras kepala, sama seperti aku.”

Parker menggeliat sedikit di tempat tidurnya, kelopak matanya bergerak sebelum perlahan terbuka. Ia menatap sekeliling dengan pandangan kabur sebelum akhirnya melihat sosok Tony yang masih setia di sampingnya.

“Tony…?” suara Parker serak.

Tony segera berdiri dan mendekat. “Hei, kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”

Parker mencoba mengangkat tubuhnya, namun segera merasa pusing. Tony dengan sigap menahannya dan membantunya berbaring lagi. “Jangan banyak bergerak dulu. Kau masih butuh istirahat.”

Parker tersenyum lemah. “Aku baik-baik saja… Hanya sedikit pusing.”

“Ya, karena kau berlagak seperti pahlawan tanpa batas tenaga,” kata Tony sambil menghela napas. “Kau benar-benar membuatku khawatir.”

Parker terdiam, sedikit terkejut mendengar nada suara Tony yang begitu serius. Sejak awal mereka bekerja sama, Tony memang selalu bersikap protektif, tapi kali ini terasa berbeda. Ada ketulusan dalam kata-katanya, seolah ia benar-benar takut kehilangan Parker.

Sebelum Parker sempat membalas, suara alarm kecil dari komputer di ruangan itu berbunyi. Profesor Willie muncul di layar hologram. “Tony, kita punya masalah.”

Tony segera berdiri. “Masalah apa lagi sekarang?”

“Kingpin tidak tinggal diam setelah kekalahannya. Dia telah menyewa seseorang untuk menghabisi Parker.”

Mata Tony menyipit, rahangnya mengeras. “Siapa?”

Layar menampilkan rekaman kamera keamanan yang menunjukkan siluet seorang pria dengan armor hitam kehijauan dan sayap mekanik besar yang berkilauan di bawah sinar bulan.

“Namanya Adrian Toomes, alias Vulture. Seorang pemburu bayaran yang menggunakan teknologi eksperimental untuk mendukung pergerakannya,” jelas Willie. “Ia sudah bergerak, dan kemungkinan besar target utamanya adalah Parker.”

Tony mengepalkan tangan. “Sial. Kita bahkan belum sempat bernapas dan dia sudah mengirim pembunuh baru.”

Parker, yang masih terbaring lemah, berusaha duduk meskipun tubuhnya masih terasa berat. “Aku harus bersiap… Aku tidak bisa terus terbaring di sini.”

“Tidak!” Tony menatap Parker dengan tajam. “Kau masih lemah. Aku tidak akan membiarkanmu melawan siapa pun dalam kondisi seperti ini.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi-tapian,” potong Tony. “Kali ini aku yang akan melindungimu.”

Parker menatap kakaknya dengan penuh rasa bersalah, tapi ia tahu Tony benar. Saat ini, tubuhnya tidak berada dalam kondisi prima. Jika Vulture benar-benar datang, Parker hanya akan menjadi beban bagi tim.

Tony menatap layar dengan ekspresi dingin dan penuh tekad. “Jika Kingpin berpikir bahwa dia bisa menghabisi Parker begitu saja, dia salah besar.”

Sementara itu, di suatu tempat di kota, Vulture berdiri di atas gedung pencakar langit, menatap ke arah Stark Industries. Matanya menyala merah di balik helmnya. Sayap mekaniknya mengepak perlahan, siap untuk berburu.

“Aku akan membuatmu menyesal, Spider-Kid.”

Malam di New York terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin dingin berhembus, membawa aroma hujan yang menggantung di udara. Di puncak gedung pencakar langit, sosok misterius berdiri tegak, matanya yang bersinar merah mengamati Stark Industries di kejauhan.

Adrian Toomes, alias Vulture, menatap markas Cyber Team dengan senyum dingin. Sayap mekaniknya yang canggih mengepak perlahan, mengeluarkan suara dengungan rendah. "Saatnya berburu," gumamnya sebelum melesat ke udara, membelah malam dengan kecepatan yang mengerikan.

Di dalam ruangan medis Stark Industries, Parker masih terbaring lemah. Infus masih terhubung ke lengannya, wajahnya pucat karena kelelahan. Tony, yang duduk di sampingnya, mengawasi dengan cermat, memastikan adiknya tidak berusaha bangkit sebelum benar-benar pulih.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Alarm keamanan berbunyi nyaring. Cahaya merah berkedip-kedip di sepanjang koridor. Profesor Willie muncul di layar hologram.

"Tony! Kita diserang!"

Tony segera berdiri. "Apa? Siapa?!"

"Vulture! Dia sudah menerobos sistem keamanan!" suara Willie terdengar panik. "Dia bergerak cepat, langsung menuju ke ruangan medis!"

Tony mengumpat. Dia menoleh ke Parker yang mencoba bangkit dari tempat tidur. "Jangan coba-coba, Parker. Kau masih belum siap."

"Aku tidak bisa diam saja," Parker bersikeras, meskipun tubuhnya masih lemah.

Sebelum Tony bisa menjawab, atap ruangan medis tiba-tiba meledak! Pecahan kaca dan logam beterbangan. Vulture melesat masuk dengan kecepatan tinggi, mencengkeram Tony dengan cakar mekaniknya dan melemparkannya ke dinding dengan keras.



Parker berusaha bangkit, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah untuk bereaksi dengan cepat. Vulture berjalan mendekat, menatapnya dengan seringai menyeramkan.

"Kau yang jadi buruan utamaku, Spider-Kid," katanya dengan suara dingin. "Kingpin menginginkan kepalamu."

Parker mengepalkan tangan, mencoba mengumpulkan kekuatan. "Kau harus berusaha lebih keras untuk itu."

Vulture terkekeh. "Bagus. Aku suka tantangan."

Tony bangkit dari reruntuhan dengan wajah penuh amarah. "Jangan sentuh adikku, burung tua!"

Ia menekan tombol di pergelangan tangannya, memanggil armor Iron Man yang segera melesat ke arahnya dan membungkus tubuhnya dalam hitungan detik.

Vulture hanya menyeringai. "Oh? Si Kakak ingin ikut bermain?"

Tony menembakkan repulsor blast ke arah Vulture, tetapi musuhnya dengan cekatan menghindar, melayang di udara dengan gerakan yang lincah. Sayapnya berkilauan dalam cahaya bulan, menghasilkan medan gaya yang membuatnya bisa bermanuver dengan kecepatan tinggi.

Parker, yang masih lemah, berusaha bangkit. Dengan sisa tenaganya, ia melompat ke dinding dan menembakkan jaring ke arah Vulture. Namun, Vulture mengaktifkan pisau energi di cakar mekaniknya dan memotong jaring itu dengan mudah.

"Kau masih lemah, bocah," ejeknya sebelum menukik dengan kecepatan tinggi, menendang Parker hingga terhempas ke meja peralatan medis.

Tony meluncur dengan kecepatan tinggi, menabrakkan dirinya ke Vulture dan menyeretnya keluar gedung. Pertarungan berlanjut di udara di atas kota New York.Vulture menebaskan cakar energinya ke Tony, tetapi Iron Man berhasil menangkisnya dengan tameng energi. Mereka saling bertukar serangan dengan kecepatan tinggi, sementara di bawah mereka, Cyber Team bersiap menghadapi kemungkinan serangan lebih lanjut.

Zack dan Gwen berusaha mengakses sistem Vulture, mencoba mencari celah di dalam armornya. Echo, meskipun masih mengalami glitch akibat serangan Kingpin sebelumnya, tetap membantu dengan memberikan informasi secara real-time kepada Tony.

"Tony, sayapnya menggunakan teknologi berbasis medan elektromagnetik," kata Echo. "Jika kau bisa mengganggu stabilitasnya, dia akan kehilangan keseimbangan!"

Tony mengangguk. "Baiklah, mari kita buat burung ini jatuh."

Ia mengalihkan energinya ke EMP blast kecil dan menembakkannya ke Vulture. Ledakan gelombang elektromagnetik membuat sayap Vulture berkedip dan kehilangan daya sejenak.

Namun, Vulture tidak mudah dikalahkan.

"Kalian pikir itu cukup?" teriaknya. "Aku sudah mempersiapkan diri untuk ini!"

Ia mengaktifkan generator cadangan di armornya dan kembali melaju dengan kecepatan penuh, menyerang Tony tanpa ampun.

Di bawah, Parker yang akhirnya berhasil berdiri penuh dengan tekad. Ia menatap pertempuran di udara, mengatur napas, dan melesat keluar gedung dengan jaringnya.

"Aku tidak akan membiarkan Tony bertarung sendirian!"

Parker melompat ke udara, mengayunkan tubuhnya dengan jaring dan menembakkan beberapa bola jaring ke arah Vulture. Salah satu jaringnya berhasil menempel di sayap Vulture, memperlambat gerakannya.

Tony mengambil kesempatan itu. Dengan kecepatan tinggi, ia meninju Vulture tepat di dadanya, mengaktifkan sistem magnetik di sarung tangan Iron Man, dan menarik Vulture ke arahnya.

"Sudah waktunya kau turun dari langit."

Dengan satu hentakan besar, Tony melempar Vulture ke tanah dengan kecepatan tinggi. Vulture menghantam jalanan kota dengan keras, menciptakan kawah kecil di aspal.

Parker mendarat di dekatnya, terengah-engah tetapi tetap berdiri tegak. "Kau sudah kalah, Toomes."

Vulture mengerang, berusaha bangkit, tetapi Gwen, Zack, dan Echo sudah mengelilinginya dengan senjata mereka siap.

Tony mendarat di sebelah Parker dan menepuk bahunya. "Kau baik-baik saja?"

Parker mengangguk lemah. "Aku harusnya bertanya hal yang sama padamu."

Tony tersenyum. "Kau keras kepala seperti biasanya."

Polisi dan tim keamanan Stark Industries tiba untuk menangkap Vulture yang tak berdaya. Cyber Team akhirnya bisa bernapas lega, meskipun mereka tahu ancaman belum berakhir.

Di kejauhan, Kingpin mengamati kejadian itu melalui layar di ruangannya. Ia menyeringai. "Permainan baru saja dimulai."

Komentar