Chapter 20 - Pengorbanan Terakhir

"Kehancuran Tanpa Batas"



Realitas dan virtualitas kini melebur menjadi satu. Kota yang dulunya penuh dengan kehidupan kini menjadi campuran antara dunia nyata dan dunia digital yang tak terkendali. Bangunan-bangunan yang masih berdiri berubah bentuk secara acak, terkadang menjadi struktur beton biasa, terkadang menjadi aliran kode yang berpendar dalam cahaya biru dan ungu. Langit tidak lagi memiliki batas, melainkan terbuka ke dalam kehampaan dimensi digital yang terus mengembang. Orang-orang yang masih tersisa berlari ketakutan, beberapa dari mereka tertelan oleh glitch yang menyebar seperti wabah.

Parker berdiri di atas gedung yang sebagian besar telah berubah menjadi serpihan kode. Napasnya berat, tubuhnya penuh luka akibat pertempuran sebelumnya. Matanya terpaku pada sosok Glitch yang melayang di udara, tubuhnya kini lebih besar, lebih bermutasi, dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Kode-kode error terus berkedip di permukaan kulit digitalnya, seperti sistem yang tak stabil, tetapi semakin kuat setiap detiknya.

"Parker! Ini lebih buruk dari yang kita duga!" suara Tony terdengar dari alat komunikasi. "Glitch semakin menyatu dengan dunia ini! Jika kita tidak menghentikannya sekarang, dunia akan benar-benar kehilangan batas antara realitas dan digital."

Parker mengepalkan tinjunya. "Aku tahu, Tony. Tapi bagaimana cara menghentikannya kalau dia semakin kuat setiap detik?"

Di kejauhan, Cyber Team berusaha keras untuk menstabilkan Reality Core, alat satu-satunya yang bisa memisahkan dua dunia. Namun, sistem yang mereka gunakan juga terkena dampak glitch, menyebabkan banyak data penting yang mereka butuhkan menjadi kacau balau.

Glitch tertawa dengan suara yang menggema, suaranya bercampur antara distorsi digital dan nada penuh kebencian. "Lihatlah dunia ini, Parker! Kau pikir ini masih bisa diperbaiki? Ini bukan lagi dunia manusia, bukan lagi dunia mesin. Ini adalah era baru, di mana aku adalah penguasanya!"

Dengan satu gerakan tangan, ia melepaskan gelombang glitch yang menerjang seluruh kota. Bangunan yang tersisa mulai retak, tubuh manusia yang terperangkap dalam glitch mulai berubah, kehilangan bentuk fisiknya dan menjadi sekumpulan data yang tersedot ke dalam kehampaan dimensi baru.

Parker melompat menghindari serangan tersebut, lalu menembakkan jaring ke arah Glitch. Namun, jaring itu melewati tubuh digitalnya seperti asap yang tak bisa disentuh. Glitch berbalik dengan cepat dan menyerang Parker dengan serangan berbentuk bilah energi glitch. Parker hanya bisa menangkisnya dengan susah payah sebelum ia terpental menghantam puing-puing bangunan di bawahnya.

"Parker! Bertahanlah!" Tony berteriak, mencoba menemukan cara untuk menstabilkan alat yang mereka bawa.

Tiba-tiba, dunia di sekitar mereka mulai bergetar. Garis-garis realitas dan digital semakin retak. Cahaya biru dan ungu mulai membentuk pusaran besar di langit, seolah-olah dunia ini berada di ambang kehancuran total. Parker berdiri kembali, meskipun tubuhnya terasa lelah.

Glitch turun perlahan, menatap Parker dengan mata biru bercahaya yang penuh dengan kode yang terus berdenyut. "Kau sudah kehabisan waktu, Parker. Dunia ini bukan lagi milikmu. Ini adalah milikku sekarang. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku."

Parker mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Karl. Aku akan menghentikanmu, apapun caranya."

Glitch menyeringai, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kalau begitu, mari kita akhiri semuanya!"

Dengan satu gerakan, ia menciptakan ledakan glitch yang lebih besar dari sebelumnya. Parker hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat cahaya biru terang menyelimuti seluruh dunia, menelan segalanya dalam kehancuran tanpa batas.

Kekacauan terus terjadi. Langit kini bukan lagi sekadar bentangan biru, melainkan pusaran cahaya glitch yang mengancam menelan seluruh dunia. Garis batas antara realitas dan dunia digital semakin menghilang. Gedung-gedung kota berubah menjadi struktur yang tidak stabil, berkedip antara bentuk fisik dan susunan kode yang terus bergerak.

Di tengah kehancuran, Parker terhuyung, tubuhnya lelah akibat pertarungan yang tiada henti. Glitch berdiri di hadapannya, kini dalam bentuk yang lebih mengerikan—tubuhnya benar-benar menyatu dengan dimensi digital, dengan kilatan kode error yang terus mengalir di sekujur tubuhnya. Tatapannya kosong, tetapi penuh kebencian yang membara.

"Ini akhirnya, Parker!" Glitch mengangkat tangannya ke langit, menciptakan pusaran glitch yang semakin meluas. "Aku akan menelan seluruh dunia ini, dan kau tidak bisa menghentikanku!"

Namun sebelum ia melepaskan kekuatannya, tiba-tiba suara Tony terdengar dari alat komunikasi Parker. "Parker! Aku punya rencana! Tapi kita tidak punya banyak waktu!"

Parker menggertakkan giginya. "Cepat katakan, Tony! Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan!"

Dari sebuah gedung yang masih berdiri, Tony bersama Cyber Team berhasil mengaktifkan alat yang mereka temukan di masa lalu—Reality Stabilizer. Namun, alat itu hanya bisa berfungsi jika ada seseorang yang mengaktifkan dari dalam glitch itu sendiri. Tony tahu apa yang harus dilakukan, tetapi ia ragu untuk mengatakannya.

"Parker… satu-satunya cara untuk memperbaiki semua ini adalah dengan memanfaatkan sumber glitch itu sendiri. Jika kita bisa menanamkan Reality Stabilizer langsung ke dalam inti Glitch, kita bisa mengakhiri ini semua. Tapi… seseorang harus melakukannya dari dalam."

Parker tersentak. "Maksudmu… aku harus masuk ke dalam Glitch? Itu bunuh diri, Tony!"

"Aku tahu!" suara Tony terdengar penuh emosi. "Tapi aku tidak melihat cara lain! Kau satu-satunya yang cukup cepat untuk menembus pertahanannya!"

Sementara itu, Glitch mulai menyadari sesuatu yang tidak beres. Ia menoleh ke arah Tony dan Cyber Team, melihat mereka mempersiapkan sesuatu. Dengan marah, ia melemparkan serangan glitch ke arah mereka. Parker beraksi cepat, melompat dan menahan serangan itu dengan tubuhnya sendiri. Ledakan besar terjadi, membuatnya terjatuh ke tanah dengan tubuh penuh luka.

Tony berlari ke arahnya, mendekapnya dengan cemas. "Parker! Kau baik-baik saja?!"

Parker mengerang kesakitan, tapi ia tersenyum lemah. "Aku… masih di sini… Tony…"

Tatapan Tony berubah lembut. Ia menatap adiknya dengan penuh kesedihan. "Aku tidak bisa kehilanganmu, Parker… Aku sudah kehilangan banyak orang… Aku tidak bisa kehilangan adikku juga."

Parker terdiam sesaat, lalu menggenggam tangan Tony dengan erat. "Dan aku tidak bisa kehilangan kakakku… Tapi kita harus melakukan ini, Tony. Jika tidak, tidak akan ada dunia yang bisa kita selamatkan."

Air mata hampir jatuh dari mata Tony, tetapi ia menahannya. Dengan berat hati, ia menyerahkan Reality Stabilizer ke Parker. "Pergilah… dan hentikan dia."

Parker mengangguk. Dengan sisa tenaganya, ia melompat ke arah Glitch. Ia menghindari serangan demi serangan, hingga akhirnya mencapai inti tubuh Glitch. Dengan satu tarikan napas, ia menancapkan alat itu ke tubuh digital Glitch.

Tiba-tiba, tubuh Glitch mulai bergetar hebat. Matanya melebar, dan untuk pertama kalinya sejak ia menjadi monster ini, ekspresi kesadaran muncul di wajahnya. Ia menatap Parker dengan tatapan yang penuh dengan sesuatu yang mirip dengan… penyesalan.

"Parker… Aku akhirnya mengerti… Aku… Aku yang menciptakanmu sebagai Spider-Man… Dan kau… yang menciptakanku sebagai Glitch…" katanya dengan suara lemah. "Tapi… Aku tidak bisa terus seperti ini… Aku tidak bisa membiarkan dunia ini hancur karena aku…"

Parker terdiam, masih tergantung di udara bersama Glitch. "Karl…"

Glitch menatap ke bawah, ke dunia yang hampir ia hancurkan. Lalu, dengan senyum kecil yang hampir tak terlihat, ia berkata pelan, "Selamat tinggal… Parker."

Dalam sekejap, tubuhnya mulai terurai. Kode-kode glitch yang mengelilinginya mulai menghilang, seiring dengan itu, dunia perlahan kembali ke bentuk aslinya. Gedung-gedung kembali utuh, langit kembali menjadi biru, dan batas antara dunia nyata dan digital mulai memisah lagi.

Parker jatuh ke tanah dengan napas terengah-engah. Tony berlari menghampirinya dan menariknya ke dalam pelukan erat.

"Kau berhasil… Kau berhasil, Parker…"

Parker tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap langit yang kini telah bersih, merasakan kepergian seseorang yang dulu adalah temannya. Karl sudah tiada… dan dengan itu, akhirnya kedamaian kembali.

Namun, di suatu tempat jauh di dalam sistem digital… jejak terakhir dari Glitch masih ada.

Komentar