Chapter 16 - Bayangan di Dunia Digital
"Perang Dunia Digital"
Parker berdiri diam di tepi gedung, matanya terkunci pada sosok yang kini berdiri di hadapannya. Glitch—atau Karl Tanaka, seperti yang dulu ia kenal—memancarkan aura yang tidak bersahabat. Tubuhnya dipenuhi dengan efek glitch yang bergetar dan berpendar dalam warna ungu dan biru, seolah-olah ia bukan lagi manusia, melainkan bagian dari sistem yang rusak.
"Kau terlihat terkejut, Parker," suara Glitch terdengar seperti gema dari banyak suara yang tumpang tindih, penuh distorsi dan kemarahan.
Parker mencoba menenangkan dirinya, meskipun di dalam hatinya ia merasa bersalah. "Karl... apa yang terjadi padamu? Aku—aku pikir kau masih di kampus, sibuk dengan proyek AI-mu."
Glitch menyeringai, tetapi ekspresi marah tetap terlihat jelas di wajahnya. "Kampus? Proyek AI? Itu semua tidak berarti apa-apa sekarang! Semua ini gara-gara kau, Parker!"
Parker mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"
Glitch mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, kode digital berpendar mengalir dari telapak tangannya, membentuk jaring listrik yang menyerang Parker. Dengan cepat, Parker melompat ke belakang, menghindari serangan itu, tetapi listrik tersebut mengenai dinding gedung dan langsung mengubahnya menjadi piksel-piksel yang menghilang seperti data yang dihapus.
"Apa yang telah terjadi padamu, Karl?" tanya Parker, kini lebih waspada.
Glitch menggeram. "Kau masih tidak ingat, bukan? Saat kau bertarung dengan Shadowbyte, ledakan terakhirnya menyebarkan virus digital yang kuat. Aku berada di dalam sistem Jakarta pada saat itu, menguji program AI terbaru yang kubuat. Dan kau tahu apa yang terjadi? Ledakan itu masuk ke dalam jaringan dan langsung menyerang programku!"
Parker menelan ludah, mulai mengingat pertarungan dahsyat dengan Shadowbyte di tengah kota Jakarta. Ia ingat ledakan besar yang terjadi saat ia menghancurkan inti Shadowbyte, tetapi ia tak pernah mengira bahwa ledakan itu akan berdampak sejauh ini.
"Aku terserap ke dalam sistem!" lanjut Glitch dengan suara yang bergetar oleh amarah. "Tubuhku tidak lagi nyata—aku menjadi bagian dari dunia digital! Semua ini karena kau, Parker! Dan sekarang, aku akan membalas dendam!"
Tanpa peringatan, Glitch melesat maju, kecepatannya melebihi dugaan Parker. Ia menyerang dengan tangan yang menyala oleh listrik digital, memaksa Parker untuk menghindar dan melompat dari satu gedung ke gedung lainnya.
Di atap Stark Industries, Cyber Team menyaksikan pertarungan yang berlangsung di kejauhan. Tony segera mengenali bahaya yang mengancam Parker dan mengambil radio komunikasinya. "Parker, siapa itu? Apa yang sedang terjadi?"
Parker, yang masih berusaha menghindari serangan Glitch, menjawab dengan suara terengah-engah. "Ini... ini Karl! Teman kuliahku! Dia terkena virus digital dari pertarungan dengan Shadowbyte dan sekarang dia berubah menjadi sesuatu yang baru!"
Profesor Willie mengerutkan kening mendengar nama itu. "Karl? Karl Tanaka? Programmer AI yang jenius itu? Tidak mungkin dia bisa berubah menjadi entitas digital sepenuhnya... kecuali jika virus Shadowbyte telah berevolusi dengan cara yang belum kita pahami."
Gwen melihat energi yang berpendar di sekitar Glitch. "Itu bukan hanya virus biasa. Dia sudah menyatu dengan sistem dunia digital. Jika kita tidak menghentikannya sekarang, dia bisa meretas seluruh jaringan Jakarta!"
Tony mengangguk, segera memberi perintah. "Oke, kita harus bertindak cepat. Gwen, Zack, siapkan program firewall di server utama Jakarta. Profesor Willie, kau dan aku akan mencari cara untuk mengisolasi energi digitalnya. Kita tidak bisa membiarkan ancaman baru ini berkembang lebih jauh."
Sementara itu, Parker terus bertarung dengan Glitch. Ia mencoba berbicara dengan Karl, mencoba menyadarkannya. "Karl, aku tahu kau marah, tapi kita bisa menemukan cara untuk membantumu! Ini bukan salahmu, dan ini juga bukan salahku! Aku tidak ingin bertarung denganmu!"
Namun, Glitch hanya tertawa dingin. "Kau pikir aku masih butuh bantuanmu? Aku sekarang lebih kuat dari siapa pun! Dunia digital adalah tempatku sekarang, dan aku akan menguasainya!"
Tiba-tiba, Glitch mengangkat kedua tangannya ke langit, dan dalam sekejap, lampu-lampu di kota mulai berkedip-kedip dengan cepat. Sistem listrik terganggu, dan layar raksasa di gedung-gedung mulai menampilkan simbol-simbol aneh yang terus berubah. Jaringan komunikasi mulai kacau, dan suara alarm berbunyi di seluruh kota.
Tony, yang masih memantau dari atap Stark Industries, langsung menyadari apa yang terjadi. "Dia tidak hanya ingin membalas dendam pada Parker... dia ingin mengambil alih seluruh kota!"
Parker menatap Glitch dengan ekspresi serius. "Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini, Karl. Aku akan menghentikanmu, bagaimanapun caranya!"
Glitch tersenyum licik, lalu berbisik dengan suara yang terdengar seperti statis rusak. "Kalau begitu, ayo kita lihat siapa yang lebih kuat... di dunia nyata atau dunia digital."
Dalam hitungan detik, tubuh Glitch mulai menghilang menjadi aliran data yang menyebar ke seluruh kota, meninggalkan Parker dalam kebingungan.
Tiba-tiba, sebuah portal glitch terbuka di langit, menghisap energi di sekitarnya. Parker menatap portal tersebut dengan waspada, lalu melompat masuk tanpa ragu, mengejar Glitch ke dalam dimensi digital.
Di atap Stark Industries, Tony mengepalkan tinjunya. "Kita baru saja menghadapi ancaman terbesar yang pernah kita lihat. Cyber Team, bersiaplah. Pertarungan baru saja dimulai."
Dan dengan itu, malam yang seharusnya menjadi awal baru berubah menjadi awal dari perang digital yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Parker merasa seperti sedang melayang di lautan data. Cahaya neon biru dan ungu berkedip di sekelilingnya, membentuk dinding kode yang terus bergerak. Ia baru saja melompati portal glitch yang dibuka oleh Karl, dan kini ia berada di dunia yang sama sekali berbeda—sebuah realitas digital di mana hukum fisika tidak lagi berlaku.
Di kejauhan, Glitch berdiri di atas platform yang tampak seperti lantai kaca bercahaya. Tubuhnya kini lebih stabil dibanding sebelumnya, seolah-olah dunia digital adalah tempat di mana ia benar-benar bisa berkembang tanpa batas.
"Selamat datang di rumah baruku, Parker!" seru Glitch, suaranya menggema di antara aliran data yang terus bergerak.
Parker mendarat dengan hati-hati, merasakan lantai di bawahnya yang terasa aneh, seperti sesuatu yang semi-padat. "Karl, dengarkan aku! Kau tidak harus melakukan ini! Kita bisa menemukan cara untuk membantumu!"
Glitch tertawa dingin, efek distorsi dalam suaranya semakin kuat. "Membantu? Aku tidak butuh bantuan! Kau pikir aku hanya akan diam saja dan menerima nasibku?"
Parker berkata "Tidak... tapi.."
"Aku menciptakanmu, Parker! Aku yang membuat program yang membangkitkan laba-laba eksperimen itu! Aku yang menjadikanmu Spider-Man!" ucap Karl.
Parker membeku. Kata-kata Karl mengguncangnya. "Apa...?"
Glitch melangkah maju, mengangkat tangannya, dan hologram berbentuk kode mulai muncul di sekitar mereka, memperlihatkan potongan-potongan masa lalu.
Flashback
Di dalam laboratorium universitas, Karl sibuk di depan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat, menyusun kode dalam layar terminal. Sebuah eksperimen tentang kecerdasan buatan dan manipulasi genetika sedang ia jalankan—sebuah proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan regeneratif makhluk hidup dengan bantuan AI.
Di dalam sebuah tangki kaca, seekor laba-laba kecil bergerak perlahan, tubuhnya dikelilingi aliran listrik mikro dari sistem yang Karl kembangkan. Namun, tanpa sepengetahuannya, sistem mengalami overload akibat kesalahan dalam perhitungan AI. Energi yang tersalurkan ke dalam laba-laba itu tidak hanya memengaruhi genetikanya, tetapi juga menginfusinya dengan sifat elektromagnetik aneh.
Tak lama setelahnya, Parker yang berkunjung ke lab tanpa sengaja tergigit oleh laba-laba tersebut.
Kembali ke masa kini
Parker menatap Glitch dengan ekspresi kaget. "Jadi... kau yang menciptakan laba-laba itu? Kau yang secara tidak langsung membuatku menjadi Spider-Man?"
Glitch mengangguk, matanya menyala dengan kebencian. "Dan kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Aku terus bekerja dalam sistem AI-ku, mencoba membuat inovasi yang lebih besar. Lalu, suatu hari, saat aku mengakses sistem pemrograman utama Jakarta... KAU meledakkan Shadowbyte!"
Parker menggertakkan giginya. "Itu bukan salahku! Aku harus menghentikannya sebelum dia menghancurkan kota! Aku tidak tahu bahwa ledakannya akan menyebarkan virus digital ke sistemmu!"
Glitch mengacungkan tangannya, dan tiba-tiba seluruh dunia digital di sekeliling mereka mulai bergetar. "Tapi aku tahu! Aku merasakan bagaimana tubuhku dihancurkan menjadi data! Aku melihat diriku larut dalam sistem, menjadi bagian dari sesuatu yang bahkan aku sendiri tak bisa kendalikan. Dan sekarang, Parker... aku akan mengambil semuanya darimu, seperti kau telah mengambil semuanya dariku!"
Tiba-tiba, Glitch mengangkat tangannya dan menciptakan portal glitch lain, lalu melompat masuk. Tanpa berpikir panjang, Parker segera mengejarnya.
Pengejaran Melintasi Dimensi Digital dan Realitas
Parker keluar dari portal dan mendapati dirinya berada di tengah jaringan komunikasi digital kota Jakarta. Mereka melesat di antara aliran data, melompati jembatan-jembatan cahaya yang menghubungkan setiap titik sistem utama.
Glitch terus berlari, melompat ke server pemerintah, lalu berpindah ke jaringan transportasi, sebelum akhirnya berteleportasi ke sistem perbankan. Setiap tempat yang ia kunjungi, energinya semakin bertambah besar, seolah-olah ia menyerap kekuatan dari inti-inti digital kota.
Parker tidak tinggal diam. Ia menggunakan jaringnya untuk menarik dirinya lebih cepat, melintasi gelombang data yang terus bergerak. "Karl, hentikan ini! Jika kau terus menyerap energi digital, kau bisa menghancurkan keseimbangan dunia nyata dan digital!"
"Justru itu tujuanku!" seru Glitch. "Aku tidak ingin hanya membalas dendam! Aku ingin menjadi sesuatu yang lebih dari manusia! Aku ingin menjadi entitas yang tak terbatas!"
Parker semakin mempercepat lajunya dan akhirnya berhasil menangkap Glitch di salah satu pusat data utama Jakarta. Mereka berdua bertarung di atas pilar-pilar data yang terus berubah bentuk, saling bertukar pukulan dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti mata biasa.
Namun, semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas bahwa Glitch semakin kuat. Setiap kali Parker berhasil mendaratkan pukulan, tubuh Karl hanya berubah menjadi aliran kode, lalu membentuk kembali dirinya seolah-olah tidak pernah terkena serangan.
Glitch menyeringai. "Kau tidak bisa mengalahkanku di sini, Parker. Aku adalah dunia ini sekarang!"
Parker terengah-engah, tetapi tekadnya tetap kuat. Ia menatap Karl dengan penuh keteguhan. "Mungkin aku tidak bisa mengalahkanmu di sini... tapi aku tidak akan berhenti mencoba!"
Glitch tertawa lagi, kali ini lebih keras, sebelum membuka portal lain. "Kalau begitu, ayo Parker. Kejar aku jika kau bisa!"
Tanpa ragu, Parker melompat masuk ke dalam portal glitch yang semakin tidak stabil, mengejar Karl menuju dunia digital yang lebih dalam—tempat di mana realitas dan virtualitas mulai bercampur menjadi satu.
Komentar
Posting Komentar