Chapter 02 - Masa Lalu dan Petualangan Baru
"Suasana yang Hangat"
Hari itu, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Jakarta. Parker berjalan pelan menuju apartemen kecil tempat ia tinggal bersama Bibi May. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Bibi May—adik dari ibunya—mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Ia membesarkan Parker seperti anaknya sendiri, mendidiknya menjadi pria yang kuat dan bertanggung jawab. Hingga kini, Bibi May masih setia berada di sisinya, menjadi sosok ibu yang selalu ia hormati dan sayangi.
Begitu membuka pintu apartemen, aroma masakan Bibi May menyambutnya. "Parker, kamu pulang? Kamu terlihat lelah sekali, Nak," ujar Bibi May lembut, menoleh dari dapur kecilnya.
Parker melempar tasnya ke sofa dan tersenyum kecil. "Ya, Bi. Hari ini cukup padat di kampus." Ia duduk di kursi ruang tamu, mencoba melepaskan penatnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan dari Zack Osborn muncul di layar: "Bro, lagi di rumah? Gue sama MJ bisa mampir nggak?"
Parker mengetik cepat, "Ayo, aku di rumah. Kita bisa ngerjain tugas bareng." Tak lama setelah ia mengirim balasan, suara bel pintu berbunyi. Parker membuka pintu, dan di sana berdiri Zack dengan buku di tangannya, diikuti oleh MJ yang membawa tas besar.
"Hei, Parker!" sapa Zack sambil membawa bukunya masuk ke dalam tas. "Aku bawa snack buat kita." MJ tersenyum dan melambai. "Siap kerja kelompok, SpiderBoy?"
Parker tertawa kecil. "Masuklah. Kalian tahu aku butuh bantuan di tugas algoritma ini." Mereka bertiga duduk di ruang tamu, mulai mengerjakan tugas sambil bercanda dan mengingat masa-masa SMP mereka.
Sementara mereka asyik mengobrol, di tempat lain, Tony Stark berdiri di depan gedung kampus Universitas Teknologi Jakarta. Ia datang untuk menjemput Parker, tetapi setelah menunggu beberapa saat, ia tidak menemukan pemuda itu di sana.
"Hmm, bocah ini ke mana lagi?" gumam Tony. Dengan cepat, ia mengakses sistem pelacakan di ponselnya yang terhubung dengan perangkat milik Parker. "Aha, di apartemen Bibi May. Tentu saja." Tanpa membuang waktu, ia melesat dengan mobil sport canggihnya menuju apartemen tersebut.
Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi lagi. Parker berdiri, merasa heran. "Siapa lagi ya?" Saat ia membuka pintu, wajah Tony Stark yang familiar menyapanya dengan senyum khasnya.
"Hah? Mr. Stark!" Parker terkejut. "Kenapa nggak kasih tahu kalau mau datang?"
"Aku mau bikin kejutan, haha" jawab Tony bergurau. Ia masuk dan meletakkan kantong makanan di meja. "Aku bawain seblak favoritmu. Hanya aku yang tahu kamu suka makanan aneh ini, kan?" candanya.
Parker tertawa dan mengambil seblak itu dengan semangat.
Zack dan MJ menyapa Tony dengan antusias. "Halo, Mr. Stark!" ujar mereka serempak.
"Hei, anak-anak. Kalian sibuk apa?" tanya Tony sambil melirik tugas-tugas yang berserakan di meja.
"Tugas algoritma, dan sepertinya aku butuh bantuanmu," jawab Parker dengan nada setengah bercanda.
"Beruntung kau punya aku di pihakmu," kata Tony sambil duduk di samping Parker, langsung membantunya memecahkan soal-soal sulit itu. Zack dan MJ yang awalnya ragu akhirnya ikut bertanya pada Tony, yang dengan senang hati menjelaskan konsep-konsep sulit dengan caranya yang unik dan penuh humor.
Di dapur, Bibi May tersenyum hangat melihat keakraban mereka. Ia menoleh pada MJ yang tengah membantunya memotong sayuran. "Terima kasih sudah menemani Parker. Ia jadi lebih ceria kalau kalian ada di sekitarnya."
MJ tersenyum. "Dia teman kami, Bi. Kami akan selalu ada untuknya."
Sementara Tony, Parker dan Zack sibuk mengerjakan tugas, MJ dan Bibi May mulai menyiapkan makan malam. MJ dengan cekatan membantu memotong sayuran dan menata meja makan, sementara Bibi May memasak dengan penuh kasih sayang.
Suasana apartemen itu dipenuhi tawa dan kebersamaan. Di antara semua tekanan sebagai Spider-Man, momen seperti ini adalah pelipur lara bagi Parker. Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai dihiasi bintang, Parker merasa benar-benar di rumah. Bersama orang-orang yang ia cintai, ia siap menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan.]
Matahari pagi menyinari gedung kampus, menciptakan bayangan panjang di sepanjang koridor yang dipenuhi mahasiswa sibuk. Parker berjalan santai menuju kelas, sesekali bercanda dengan MJ dan Zack yang berjalan di sisinya. Hari itu, mereka memiliki mata kuliah Psikologi Sains yang diajar oleh Norman Osborn, seorang dosen yang dihormati dan juga ayah dari Zack.
Di dalam kelas, Norman menyampaikan materi dengan tenang dan penuh wibawa. Tak ada yang menyangka bahwa di balik sosoknya yang ramah, ada kegelapan yang tersembunyi. Kepribadian gandanya, Green Goblin, sudah lama tak muncul, namun bayangan masa lalu masih membayangi. Parker menghormati Norman sebagai seorang akademisi, tak pernah curiga bahwa dosen yang disegani itu adalah musuh lama yang telah lama menghilang dari kehidupannya.
Di dalam kelas yang sedang sibuk mengerjakan tugas, ada seorang mahasiswi yang tengah melamun. MJ sedang memikirkan bagaimana keadaan adiknya diluar sana. Lalu ia teringat kembali cerita di masa lalu. MJ dulu hidup bahagia bersama ayahnya dan adik perempuannya. Ayahnya adalah seorang pria baik yang selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya. Namun, segalanya berubah pada suatu malam yang kelam. Saat dalam perjalanan pulang, ayahnya melihat seseorang sedang dibegal di gang sempit. Tanpa ragu, ia melangkah maju untuk menolong, tetapi justru menjadi korban. MJ yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya bisa menahan tangis saat ayahnya terjatuh bersimbah darah.
Setelah kejadian tragis itu, adiknya menghilang tanpa jejak. Kehilangan dua orang yang ia cintai membuat MJ terombang-ambing dalam kebingungan dan kesedihan. Hingga suatu hari, sebuah organisasi rahasia mendekatinya, menawarkan kesempatan untuk mencari adiknya dengan bergabung sebagai agen mereka. Dengan tekad bulat, MJ menerimanya, tetapi merahasiakan hal itu dari siapa pun, bahkan dari Parker dan Zack.
Di sebelah MJ ada Zack Osborn yang sedang dilanda ketegangan karena ia khawatir akan kepribadian ganda ayahnya kambuh kembali dan menjadi Green Goblin. Zack juga teringat kembali kenangan di masa lalu. Zack tumbuh dengan kehidupan yang penuh tekanan di bawah bayang-bayang ayahnya, Norman Osborn. Norman adalah sosok ayah yang cerdas dan berwibawa, namun ada sisi lain yang mengerikan. Zack sering melihat perubahan sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi sosok yang dingin dan sadis. Seiring waktu, Zack mulai memahami bahwa ayahnya mengidap kepribadian ganda, di satu sisi seorang dosen yang dihormati, di sisi lain adalah Green Goblin, musuh lama Parker.
Namun, akhir-akhir ini, Zack melihat perubahan dalam diri ayahnya. Kepribadian Green Goblin jarang muncul, dan Norman tampak lebih stabil. Meski begitu, Zack selalu merasa ada sesuatu yang mengancam di balik ketenangan itu, sesuatu yang bisa meledak kapan saja.
Setelah kelas berakhir, Parker berbincang dengan Norman tentang teori psikologi yang mereka bahas di kelas. Percakapan mereka akrab, seperti antara mahasiswa dan dosen yang saling menghormati. Zack memperhatikan mereka dari kejauhan, perasaan campur aduk di hatinya. Ia tahu kebenaran yang Parker tak ketahui dan ia bertanya-tanya, berapa lama lagi rahasia itu bisa bertahan sebelum akhirnya terbongkar?
Di sisi lain, MJ menatap ponselnya. Sebuah pesan masuk dari organisasi rahasia tempat ia bekerja. Ada perkembangan baru tentang adiknya. Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa ia harus tetap merahasiakan ini dari Parker dan Zack. Masa lalu yang kelam masih menghantuinya, dan misi pribadinya masih jauh dari kata selesai.
Di tempat lain, Profesor Willie menemukan sesuatu yang mencurigakan dalam sistem kampus jejak digital dari sesuatu yang disebut "Chiper." Data ini tampaknya berkaitan dengan misi pencarian adik MJ. Menyadari kompleksitasnya, Profesor Willie segera menghubungi Tony Stark, yang tertarik untuk menyelidiki lebih dalam kasus ini.
Tony Stark segera mengumpulkan Cyber Team untuk memasuki sistem Chiper. Namun, sebelum pertempuran digital terjadi, ia menyiapkan sesuatu yang spesial. Menggunakan teknologi tercanggihnya, ia menciptakan armor Iron Man model terbaru yang dapat digunakan dalam dunia digital. Tidak hanya itu, ia juga memberikan upgrade pada suit Parker untuk meningkatkan kemampuannya menghadapi ancaman yang mungkin muncul.
Sementara itu, Profesor Willie merancang alat khusus agar rekan-rekannya dapat ikut serta dalam pertempuran digital ini. Zack Osborn membawa hoverboard terbangnya, siap bertempur di dunia yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Sebuah pertempuran hebat akan segera dimulai, di mana dunia nyata dan digital akan saling bertabrakan dalam perburuan kebenaran yang penuh misteri.

🔥🔥🔥🔥
BalasHapus