Chapter 03 - Perjuangan Dua Dunia
"Pertempuran yang Menegangkan"
Dunia digital terasa seperti dimensi lain. Cahaya neon berkedip di sepanjang koridor, sementara aliran data berbentuk kode terus mengalir seperti sungai holografik. Cyber Team—Parker, Zack, MJ, Tony Stark, dan Profesor Willie—berdiri di dalam sistem Chiper, mengenakan perlengkapan khusus yang dibuat oleh Tony dan Profesor Willie.
“Aku tak percaya ini, kita benar-benar ada di dalam sini,” gumam Zack sambil melihat sekeliling.
“Selamat datang di dunia yang penuh bahaya,” ujar Tony dengan nada santai. “Tapi jangan terlalu nyaman, karena kita tidak diundang.”
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis menggema di udara.
“Intrusi terdeteksi. Aktivasi pasukan AI pertahanan.”
Puluhan drone dan humanoid AI bermata merah muncul dari balik kegelapan, bersiap menyerang.
“Waktunya pesta,” kata Parker, mengenakan suit barunya yang bercahaya biru dengan detail merah menyala.
Dengan gerakan cepat, Cyber Team menyerang. Parker meluncur di antara musuh dengan kelincahannya, menembakkan jaring listrik ke arah AI yang menyerangnya. Zack melayang dengan hoverboardnya, menembakkan peluru plasma yang dibuat oleh Profesor Willie. Sementara itu, MJ menggunakan bilah energinya, menebas musuh yang mencoba menghalangi jalannya.
Tony Stark, mengenakan armor Iron Man terbaru yang didesain khusus untuk dunia digital, melayang di udara dan menembakkan sinar repulsor ke arah musuh.
“Seharusnya aku membawa popcorn,” celetuk Tony sambil meledakkan beberapa drone di depannya.
Di sisi lain, Zack yang biasanya bertarung dari jarak jauh, kini dipaksa menghadapi serangan langsung dari dua humanoid AI yang menyerangnya dengan kecepatan luar biasa. Zack melepaskan hoverboardnya dan berguling ke depan, menghindari pukulan dari AI pertama. Dengan cepat, ia mengaktifkan bilah plasma yang tersembunyi di pergelangan lengannya dan menebas salah satu AI hingga roboh.
Yang kedua menyerang lebih cepat, meninju Zack hingga terdorong ke belakang. Zack mengerang, tapi ia tidak menyerah. Dengan satu gerakan cepat, ia melemparkan granat elektromagnetik ke tanah, membuat AI tersebut lumpuh beberapa detik sebelum Zack melompat dan menancapkan bilah plasma ke pusat energinya. AI itu meledak dalam percikan digital.
Di sisi lain, Profesor Willie berusaha membantu tim dengan sistem baru yang ia kembangkan. “Tony, aku butuh waktu untuk menonaktifkan sebagian AI! Aku akan mengalihkan sistem ke mode shutdown!”
“Lakukan cepat, Prof! Kami mulai terdesak!” jawab Tony sambil menembakkan repulsor ke drone yang mengejarnya.
Profesor Willie dengan cepat mengakses sistem melalui perangkat holografiknya. “Hanya butuh beberapa detik lagi...”
Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan prosesnya, sebuah drone menyerang. Tony dengan cepat melindungi Profesor Willie dengan menembakkan perisai energi dari armornya. “Prof, jangan biarkan mereka menghentikanmu!”
Profesor Willie akhirnya berhasil meretas sebagian sistem AI, membuat beberapa unit musuh berhenti bergerak. Namun, itu belum cukup untuk menghentikan semuanya.
AI Chiper terlalu kuat. Mereka terus berdatangan tanpa henti. Salah satu drone raksasa menargetkan Parker dengan laser besar.
Tony bergegas, mendorong Parker keluar dari jalur tembakan laser besar dan menerima serangan itu dengan tubuhnya sendiri. Ledakan besar terjadi.
Parker berlari mendekat. “MR. STARK! Kau baik-baik saja?”
Armor nanotech Tony tampak rusak parah. Ia tersenyum lemah dan menepuk bahu Parker. “Aku baik-baik saja, Kid. Hanya... sedikit terbakar.”
“Jangan bercanda,” Parker berusaha mengangkatnya.
Tony memegang tangan Parker dan menatapnya. “Kalahkan Chiper, aku percaya padamu kid.” dan Tony pingsan dalam sekejap.
Mata Parker membelalak. “Tony! Kita harus keluar dari sini. Secepatnya”
Namun, AI Chiper semakin banyak. Cyber Team terdesak. Profesor Willie akhirnya mengaktifkan sistem evakuasi dan membuka portal kembali ke dunia nyata.
“Kita harus mundur!” teriak prof. Willie.
Satu per satu anggota tim mulai menghilang dari dunia digital, kembali ke dunia nyata.
Namun, saat Parker berusaha meraih tangan MJ, sebuah gelombang energi tiba-tiba memisahkan mereka.
“MJ!!!”
MJ berusaha menjangkau Parker, tetapi tubuhnya tertahan oleh sistem keamanan Chiper.
“Parker! Tolong!"
“TIDAKK!” teriak Parker
Namun sebelum Parker bisa meraih tangannya, MJ telah menghilang dalam pusaran kode digital.
Di dunia nyata, Parker, Zack, Tony, dan Willie muncul kembali. Namun, Tony pingsan karena luka yang dideritanya.
Parker berteriak, “Seseorang panggil ambulans!”
Parker hanya bisa menatap kosong ke wajah Tony yang begitu pucat dan Zack hanya bisa terdiam menatap layar monitor yang kini menunjukkan status MJ: "TERJEBAK"
Di dalam dunia digital, MJ bangkit perlahan, menyadari bahwa ia sendirian.
“Aku akan menemukan adikku... dan aku akan mencari jalan keluar.”
Sementara itu, sebuah suara mekanis lain bergema di sekitarnya.
“Subjek MJ terdeteksi. Inisiasi program eksperimen Chiper.”
Sosok bayangan misterius muncul di belakangnya.
Parker duduk di sampingnya, kepalanya tertunduk dalam kesedihan yang berat. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Tony yang terasa dingin.
"Tolong bangun, Mr. Stark... Aku butuh bantuanmu... MJ masih terjebak di sana..." suaranya gemetar, penuh rasa bersalah dan keputusasaan. Air mata mengalir di pipinya, membasahi sarung tangan suit-nya yang penuh goresan akibat pertempuran tadi.
Memori tentang Tony menyelamatkannya dari laser Chiper terus terputar di pikirannya. Pengorbanan itu terasa terlalu besar. Ia mencoba menggenggam lebih erat, seolah sentuhannya mampu membangunkan sosok yang selama ini menjadi ayahnya.
Parker mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang memerah menatap wajah pucat Tony. "Mengapa kau melakukan semua ini? Kenapa harus mengambil risiko sebesar itu untukku?" bisiknya penuh rasa bersalah. "Aku hanya... Aku bahkan belum cukup kuat untuk melindungi MJ... dan sekarang aku hampir kehilanganmu."
Ia terisak, rasa bersalah mencengkeram hatinya. "Kau percaya padaku, tapi aku terus gagal..." suaranya memudar, hanya suara mesin monitor yang terus berbunyi di latar belakang.
Di sisi lain ruangan, Zack Osborn sibuk mengutak-atik komputer utama. Wajahnya tegang, matanya menatap layar holografik penuh kode-kode rumit. "Prof, aku butuh akses lebih dalam ke server Chiper. Ada sesuatu yang menghalangi sinyal kita," ucapnya sambil mengetik cepat.
Profesor Willie, yang berdiri di belakangnya, mengerutkan dahi. "Aku mencoba meretas sistem pertahanan Chiper, tapi mereka punya firewall yang beregenerasi secara otomatis. Ini bukan AI biasa."
"Kita harus menemukannya sebelum terlambat!" suara Zack meninggi, napasnya memburu. "MJ sendirian di sana, Prof. Kita tidak bisa membiarkan dia terjebak selamanya."
Willie menepuk bahunya pelan. "Aku tahu, Nak. Kita tidak akan menyerah. Tapi kita butuh cara lain untuk melacaknya."
Zack menggertakkan giginya, rasa frustrasi menguasainya. "Parker tidak bisa kehilangan MJ... dan aku tidak bisa kehilangan dia juga," gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Parker akhirnya bangkit dari sisi Tony, wajahnya dipenuhi tekad yang baru. Ia melangkah mendekat ke Zack dan Willie. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak.
Zack menoleh, matanya memancarkan kepedulian yang mendalam. "Aku mencoba mencari jejak energi MJ di dalam jaringan digital Chiper. Jika aku bisa menemukan sidik digitalnya, kita bisa menciptakan jalur masuk kembali."
Profesor Willie mengangguk setuju. "Tapi kita harus hati-hati. Jika kita salah langkah, Chiper bisa memblokir akses kita selamanya."
Parker menghela napas dalam. "Lakukan apa pun yang perlu, aku akan berada di sini. Aku tidak akan membiarkan MJ sendirian di sana."
Saat mereka bertiga kembali bekerja dengan penuh semangat, suara mesin monitor di samping Tony terus berdetak lambat. Bayangan kehilangan mentor dan sahabatnya menghantui pikiran Parker, tetapi ia tahu tidak ada waktu untuk larut dalam kesedihan. MJ membutuhkan mereka.
Di dunia digital, MJ terbangun dalam sebuah ruangan gelap dan sempit yang dikelilingi dinding holografik berkilauan. Tangan dan kakinya terasa berat karena belenggu energi yang mengikatnya. Ia mencoba bergerak, tetapi setiap gerakan kecil memicu sengatan listrik ringan di pergelangan tangannya.
"Inisiasi eksperimen tahap kedua. Subjek dalam proses penyesuaian," suara mekanis menggema di seluruh ruangan.
MJ mengertakkan giginya. "Aku tidak akan jadi alat kalian," desisnya penuh amarah.
Dalam pikirannya, MJ mengingat kembali alasan mengapa ia berada di dunia digital. Ia mengetahui ada informasi penting mengenai adiknya yang hilang, dan dunia digital ini mungkin menyimpan jawaban atas keberadaannya. Di tengah rasa takut dan kesepian, tekadnya membara untuk menemukan kebenaran dan menyelamatkan adiknya.
Dengan usaha keras, ia mengalihkan energi bilah di lengannya untuk memutuskan belenggu tersebut. Setelah beberapa kali percobaan, ia akhirnya berhasil membebaskan diri. Dengan napas tersengal, ia mendorong pintu holografik di depannya hingga terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang berkelap-kelip dengan cahaya biru neon.
MJ melangkah hati-hati, matanya waspada. Setelah beberapa menit berjalan, ia keluar dari fasilitas canggih itu dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
Di kejauhan, terbentang sebuah desa yang sangat modern bertema cyberpunk. Gedung-gedung melayang di udara dengan aliran data holografik di sepanjang jalan. Warga yang tampak seperti entitas digital bergerak di antara pasar terapung yang penuh dengan teknologi canggih.
"Apa ini... dunia digital ini lebih besar dari yang kukira," gumam MJ kagum sekaligus cemas.
Ia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan langkahnya ke arah desa tersebut. Di dalam hatinya, ia yakin Parker akan menemukannya.
Dan selama Parker mencari jalan kembali, MJ bertekad untuk memanfaatkan waktunya menemukan petunjuk mengenai adiknya yang hilang.
Ia bersumpah akan bertahan hingga saat itu tiba.

Komentar
Posting Komentar